Khalid bin Walid - Si Pedang Allah yang Terhunus

Khalid bin Walid radhiyallahu ‘ahu adalah shahabat yang bergelar saifullah (pedangnya Allah). Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ tentangnya, “Khalid bin Walid adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang dihunuskan kepada kaum kafir dan munafik.”

Mengenai gelarnya sebagai “pedang Allah” sempat membuat musuh-musuh Islam bertanya – tanya. Salah satu jenderal Romawi sampai menanyakan hal itu langsung kepada Khalid, Apakah Nabi umat Islam diberi pedang oleh Allah yang diturunkan dari langit, lalu diberikan kepada Khalid bin Walid ? Beliaupun menjelaskan yang sebenarnya.

Beliau secara perawakan dan raut wajah sangat mirip dengan sayidina Umar. Seseorang yang baru mengenalnya atau yang memiliki penglihatan yang lemah, akan susah membedakan antara keduanya.

Khalid bin Walid adalah panglima perang yang tak sekalipun pernah mengalami kekalahan. Baik di masa masih musyrik ataupun setelah ia masuk Islam. Ia telah tercatat memimpin hampir 100 kali peperangan dengan jumlah pasukan yang selalu timpang. Jauh lebih sedikit dari musuhnya, tapi hasilnya selalu 100 % Victory rate.

Satu-satunya jenderal perang yang dipecat justru karena prestasinya yang tak pernah kalah mungkin hanyalah sayidina Khalid. Amirul mukminin Umar bin Khattab mencopotnya karena takut manusia akan mengkultuskannya. Sebagian orang bahkan ketika melihat pasukan Islam diberangkatkan untuk berjihad, lalu pemimpinnya Khalid bin Walid seperti enggan mencari berita, karena hasilnya selalu bisa ditebak : Pasti menang.

Telah terjadi perdebatan yang tak kunjung selesai, tentang siapakah jenderal perang paling legendaris dalam sejarah umat manusia. Seorang ilmuwan data scientist bernama Ethan Arsht yang ikut nimbrung perdebatan tersebut, tak kuasa menahan penasarannya. Ia menggunakan pendekatan statistik, dengan mengolah data 3.580 pertempuran yang pernah terjadi dan 6.619 jenderal perang yang dimuat di Wikipedia.

Dengan mempertimbangkan beberapa faktor penting seperti jumlah pasukan, keuntungan atau kekurangan numerik, serta hasil perang, Ethan berhasil mengumpulkan 10 daftar jenderal terbaik sepanjang sejarah secara cukup objektif menurut versinya. Dan ternyata yang ia tempatkan diperingkat satunya adalah Khalid bin Walid !

Sebagai pembanding, kita lihat antara Khalid bin Walid dengan Napoleon Bonaparte, sang singa Daratan Eropa.

Napoleon
~ Jabatan : Raja sekaligus Panglima
~ Perang : 70 kali
~ Kalah : 8 kali
~ Wilayah yang ditaklukkan : Lenyap bahkan saat dia masih hidup

Khalid bin Walid
~ Jabatan : Hanya panglima
~ Perang : 100 kali
~ Kalah : 0 kali
~ Wilayah yang ditaklukkan : Terus berkembang

Lewat manuver-manuvernya yang brilian di medan tempur. Khalid bin Walid hampir menerapkan semua strategi perang yang diteorikan oleh jenderal-jenderal dan ahli strategi perang dulu hingga hari ini. Baik itu turning movement, envelopment, penetrasi, infiltrasi, sampai frontal attack. Lima manuver standar ini semua Khalid jalankan dengan sukses.

Kemampuan Khalid bin Walid yang luar biasa dalam memimpin perang ini uniknya tidak didapatkan lewat pendidikan militer. Karena memang saat itu di Makkah tidak ada akademi militer atau adanya akses literatur perang seperti Strategikon Bizantium atau The Art of War Sunzi, atau reportase mengenai peperangan Hannibal dan Julius Caesar. Beliau benar-benar adalah natural born general.

Khalid tidak seperti umumnya panglima perang yang hanya berada di pos komando yang jauh dari jangkauan musuh. Tapi acap kali terjun langsung ke kancah peperangan. Dalam perang Mu’tah misalnya, ia menuturkan telah mematahkan sembilan bilah pedang.

Beliau ada inspirator besar bagi jenderal-jenderal Muslim dalam futuhat setelahnya. Karena belum pernah ada orang dalam sejarah Arab, dan kaum muslimin umumnya yang bisa berperang dengan tingkat akurasi seperti yang bisa dilakukan oleh sayidina Khalid.

Sayidina Khalid bin Walid sangat berharap bisa syahid dengan cara terbunuh di medan perang, namun Allah justru menakdirkan ia wafat di atas ranjang tempat tidurnya.

Ketika beliau wafat dan jenazahnya dimandikan, didapati di sekujur tubuhnya hampir tidak ada bagian kecuali di sana ditemukan sayatan, baik itu bekas sabetan pedang, tusukan tombak ataupun hujaman anak panah. Maraji : Saifullah Khalid bin Walid

Ditulis oleh: Ustadz Ahmad Syahrin Thoriq 

Berikan Penilaian Pada Postingan Ini