Kedermawanan Imam Syafi’i

Kedermawanan Imam Syafi’i – Bagi yang mendaku mencintai imam Syafi’i bahkan mengaku mengikuti madzhabnya, yang harus kita contoh dari beliau bukan hanya dalam urusan ilmu, namun juga akhlak dan kedermawanannya. Berikut diantara nukilan riwayatnya…

Kedermawanan Imam Syafi’i

1. Mensedekahkan uang bekal perjalanan

قدم الشافعي من صنعاء إلى مكة بعشرة آلاف دينار في منديل فضرب خباءه في موضع خارجًا من مكة، فكان الناس يأتونه فيه، فما برح حتى وهبها كلها
“Syafi’i pernah melakukan perjalanan dari Shan’a (Yaman) ke Makkah dengan membawa 10.000 dinar (sekitar 39 milyar) yang disimpannya di sebuah sapu tangan. Ia lalu membagi-bagikannya di pinggir kota Makkah. Orang-orang pun mendatanginya. Dia tidak berhenti membagikannya hingga habis semua uangnya.”[1]

2. Membagikan semua hadiah yang ia terima

كان محمد بن إدريس الشافعي لما أدخل على أمير المؤمنين هارون الرشيد، وناظر بشرًا المريسي فقطعه خلع هارون الرشيد على الشافعي، وأمر له بخمسين ألف درهم، فانصرف إلى البيت، وليس معه شيء، قد تصدَّق بجميع ذلك ووصل به الناس
“Imam Syafi’i pernah diundang oleh amirul mukminin Harun ar Rasyid untuk berdebat dengan Bisyr al Murisi, lalu ia berhasil mengalahkannya.
Harun kemudian menghampiri Syafi’i lalu memerintahkan untuk diberikan kepadanya 50.000 dirham ( 3 milyar).
Imam Syafi’i lalu keluar dari majelis tersebut kembali ke rumahnya tanpa membawa sepeserpun uang yang diterimanya. Ia mensedekahkan semua yang ia terima kepada orang yang ia jumpai (dalam perjalanan pulang).”[2]

Al Muzani menceritakan :
ما رأيت رجلًا أكرم من الشافعي، خرجتُ معه ليلة عيد من المسجد، وأنا أذاكره في مسألة، حتى أتيت باب داره، فأتاه غلام بكيس، فقال: مولاي يقرئك السلام، ويقول لك: خذ هذا الكيس، فأخذه منه وأدخله في كمه، فأتاه رجل من الحلقة، فقال يا أبا عبد الله، ولدت امرأتي الساعة، ولا شيء عندي، فدفع إليه الكيس، وصعد وليس معه شيء
“Aku tidak pernah melihat orang yang kedermawanannya melebihi Syafi’i. Kami pernah keluar dari masjid di suatu waktu saat malam hari raya, aku berbicara dengannya tentang beberapa masalah hingga tiba di pintu rumahnya.
Lalu datanglah seorang budak menemuinya dengan membawa kantung uang, lalu berkata : ‘Wahai Imam, Tuanku menyampaikan salam dan meminta engkau untuk menerima ini.’

Imam Syafi’i pun menerimanya dan memasukkan ke kantong bajunya. Lalu saat itu juga datang seseorang yang biasa hadir di majelisnya dan berkata: ‘ Wahai imam, istriku melahirkan saat ini dan aku tidak punya apapun.’
Beliaupun memberikan kantong uang itu kepada orang tersebut lalu masuk ke dalam rumah tanpa membawa apapun.”[3] Amru bin Sawad as Sarji berkata tentang beliau
كان الشافعي أسخى الناس على الدينار والدرهم والطعام”؛
“Adalah imam Syafi’i orang yang paling gemar membagi-bagikan dinar, dirham dan makanan.”[4]

3. Membalas kebaikan orang lain dengan yang lebih baik

كان الشافعي مارا بالحذائين، فسقط سوطه، فوثب غلام، ومسحه بكمه، وناوله، فأعطاه سبعة دنانير
“Suatu hari Imam asy-Syafi’i lewat, tiba-tiba cambuk yang dibawa olehnya terjatuh, lalu ada anak kecil yang melompat mengambilnya lalu anak itu mengusap tongkat tersebut dengan lengan bajunya, setelah bersih ia kemudian menyerahkannya kepada Imam asy-Syafi’i.
Maka Imam asy-Syafi’i memberi anak tersebut uang sejumlah 7 dinar ( 27.300.000).”[5]

4. Meringankan beban orang lain.

Salah satu muridnya, imam Rabi’ bin Sulaiman menceritakan :
تزوجت، فسألني الشافعي كم أصدقتها؟ قلت: ثلاثين دينارا، عجلت منها ستة، فأعطاني أربعة وعشرين دينارا
“Saya menikah, lalu Imam asy-Syafi’i bertanya kepadaku : ‘Berapa mahar yang engkau berikan kepada istrimu ?’ Aku menjawab : ‘Saya memberi mahar 30 dinar ( 117 juta), tetapi saya baru mencicil 6 dinar dulu.’
Maka beliaupun langsung memberiku uang 24 dinar (93 juta) untuk menggenapinya.”[6] Semoga bermanfaat.
__________
[1] Hilyatul Aulia (9/13)
[2] Hilyatul Aulia (9/131)
[3] Hilyatul Auliya (9/132)
[4] Siyar A’lam an Nubala (10/37)
[5] Siyar A’lam an Nubala (10/37)
[6] Adab asy Syafi’i hal. 92.

Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

Berikan Penilaian Pada Postingan Ini