Perang Ainun Jalut

Perang Ainun Jalut – Saifuddin Qutuz rahimahullah adalah pahlawan Islam dari Mesir. Salah satu singa dari sekian singa-singa Allah yang namanya harum dalam sejarah dan menjadi kebanggaan umat ini.

Saifuddin Qutuz masuk ke dalam jajaran pemimpin Islam legendaris dan yang sangat berjasa bagi kaum muslimin. Meskipun beliau memerintah kurang dari satu tahun.

Di Abad ke 13, bala tentara Monggol atau Tartar dengan kaisarnya Hulagu Khan melakukan ekspansi besar-besaran. Mereka bergerak menguasai negeri-negeri lain termasuk kekhalifahan Abasiyah kala itu.

Bala tentara monggol selain terkenal bengis dan sadis, juga digambarkan tidak terkalahkan dan tidak akan pernah kalah. Bahkan ada semacam pemeo saat itu : “Jika anda mendengar tentara Mongol kalah, maka pasti beritanya yang salah.”

Pasukan Elit Monggol di dominasi oleh suku yang hari ini dikenal dengan nama “Kazakh”. Memiliki tubuh rata-rata tinggi besar dibandingkan ukuran manusia normal. Dan mereka sejak kecil telah ditempa dengan alam dan pendidikan yang keras ala militer.

Di tangan sang pemimpin legendaris Saifuddin Qutuz runtuhlah mitos ini. Beliau memimpin langsung pasukan dalam sebuah peperangan yang sangat menentukan yang dikenal dengan perang Aiun Jalut.

Beliau rahimahullah dan pasukan muslimin untuk pertama kali mempecundangi tentara Mongol dalam bentuk kekalahan telak. Sejumlah 20.000 tentara mereka terbunuh.

Di lembah Ain Jalut inilah, pada hari Jumat 25 Ramadhan 658 H terjadi salah satu pertempuran terbesar kaum muslimin sepanjang sejarah dan tentara-tentara Allah memperoleh kemenangan.
Sejak itu mental kaum muslimin berangsur bangkit kembali, hingga berhasil membebaskan diri dari belenggu penjajahan Mongol.

Para sejarawan di antaranya Prof. Dr. Nazer Ahmed ketika menggambarkan pentingnya kemenangan Ainun Jalut bagi muslimin mengatakan : Ia kedudukannya seperti Badar di masa Rasulullah.

Rasul berdo’a saat perang Badar : “Ya Allah, jka Engkau kalahkan kelompok kecil ini, maka Engkau tidak akan pernah disembah lagi di muka bumi.”

Maka jika sampai muslimin kalah dalam perang Aiun Jalut, Mongol akan masuk ke Kairo, untuk menghancurkan benteng terakhir Umat Islam di sana. Lalu kota Makkah dan Madinah sudah pasti akan turut diluluh lantakkan.

Selanjutnya tentara Salib pun akan ikut campur. Turut serta menghancurkan wilayah muslimin lainnya seperti di Andalusia, lalu kembali masuk menguasai Yarusalem dan wilayah-wilayah Islam lainnya.

Atau kemungkinan buruk lainnya, Mongol akan melanjutkan ekspansinya menyapu bersih daratan Eropa yang lemah. Dan jika demikian, hampir dipastikan bangsa Barat tidak akan bisa masuk ke zaman Renaisans meninggalkan zaman kegelapan mereka.

Itu mengapa sebagian sejarawan Eropa menyebut kemenangan muslimin di Ainun Jalut sebagai peperangan yang melindungi Eropa.

Fakta selanjutnya yang cukup mencengangkan adalah, termasuk efek kemenangan tersebut menyebabkan banyak tentara Mongol yang kemudian masuk Islam. Mereka tergerak mempelajari Islam, setelah melihat keperwiraan dan ketangguhan prajurit kaum muslimin yang lahir dari keyakinan mereka kepada agamanya.

Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

5/5 - (7 votes)